Bergaul Lawan Jenis Menurut Islam
Tata
Cara Bergaul
Allah
telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sempurna, teratur, dan
berpasang-pasangan. Ada langit dan ada bumi, ada siang dan ada malam, ada dunia
ada akhirat, ada surga dan neraka, ada tua dan ada muda, ada laki-laki dan ada
perempuan.
Laki-laki
dan perempuan: merupakan makhluk Allah yang telah diciptakan secara
berpasang-pasangan. jadi, merupakan suatu keniscayaan dan sangat wajar, jika
terjadi pergaulan di antara mereka. Dalam pergaulan tersebut, masing-masing
berusaha untuk saling mengenal. Bahkan lebih jauh lagi, ada yang berusaha
saling memahami, saling mengerti dan ada yang sampai hidup bersama dalam
kerangka hidup berumah tangga. lnilah indahnya kehidupan.
Laki-laki
dan perempuan ditentukan dalam sunah Allah untuk saling tertarik satu dengan
yang lainnya. Laki-laki tertarik dengan perempuan, demikian juga sebaliknya,
perempuan tertarik kepada laki-laki. Allah Swt. memberikan rasa indah untuk
saling menyayangi di antara mereka. Tidak jarang juga masing-masing merindukan
yang lainnya. Rindu untuk saling menyapa, saling melihat, serta saling membenci
atas. dasar ketulusan dan kasih sayang.
Pergaulan
yang baik dengan lawan jenis. hendaklah tidak didasarkan pada nafsu (syahwat)
yang dapat menjerumuskan pada pergaulan bebas yang dilarang agama. Inilah yang
tidak dikehendaki dalam Islam. Islam sangat memperhatikan batasan-batasan yang
sangat jelas dalam pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.
Seorang
laki-laki yang bukan muhrim, dilarang untuk berduaan di tempat-tempat yang
memungkinkan melakukan perbuatan yang dilarang. Kalau pun bersama-sama
sebaiknya disertai oleh muhrimnya atau minimal ditemani tiga orang, yaitu: dua
laki-laki dan satu perempuan. atau Juga pergaulan untuk belajar atau bergaul
jika ada dua orang perempuan dan seorang laki-laki. Hal ini memungkinkan untuk
lebih menjaga diri.
Salah
satu hadis mengemukakan bahwa jika seseorang pergi dengan orang lain yang bukan
muhrimnya serta berlinan jenis kelamin, maka yang ketiganya pasti syetan yang
selalu berusaha untuk menjerumuskan dan menghinakan. ltulah yang disinyalir
dalam ayat Al-Quran, agar jangan mendekati zina. Mendekatinya sudah dilarang
dan haram, apalagi melakukannya. Allah Swt.
berfirman dalam surat Al-Isra ayat
32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan
janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)
Mencintai
dan menyayangi seseorang merupakan hal yang wajar. Hendaklah pikiran dan
perasaan kita arahkan kepada hal-hal yang positif, dan bukan sebaliknya.
Contohnya, karena cinta dan sayang, seseorang mengorbankan segalanya termasuk
hal-hal yang paling “berharga” dan dilarang oleh Allah Swt. Membuktikannya,
hendaklah dengan sesuatu yang diridai oleh Allah. Hal inilah yang dikemukakan
oleh Rasulullah saw dalam hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi:
إِذَا أَحَبَّ اَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْ (رواه ابوداود والترميدى)
Artinya:
“Jika
salah seorang di antara kamu mencintai saudaranya, hendaklah ia
membuktikannya”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Islam
mengajarkan agar dalam pergaulan dengan lawan jenis untuk senantiasa saling
menjaga diri, menghormati dan menghargai atas dasar kasih sayang yang tulus
karena Allah, bukan karena derajat, pangkat, harta, keturunan, tetapi
semata-mata hanya karena Allah. Hal ini pernah diriwayatkan dalam salah satu
hadis dari Umar bin Khattab, yang diriwayatkan oleh Abu Daud, suatu ketika
Rasulullah saw pernah bersabda,
Yang
artinya: “Bahwasannya di antara
hamba-hamba Allah ada manusia yang bukan nabi-nabi, bukan pula para
syuhada’,tetapi sangat tinggi kedudukan
di sisi Allah. Para sahabat bertanya: “Siapakah gerangan orang itu, ya
Rasullullah”:Nabi saw menjawab: “itulah orang yang saling mencintai
(menyayangi), karena harta. Demi Allah, maka wajah mereka bersinar-sinar, tiada
merasa kekuatan dikala mereka dalam keadaan ketakutan” (HR. Abu Daud).
Sesudah
itu, Rasulullah saw membaca ayat:
اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya:
“Ketahuilah,
bahwa wali-wali (penolong) Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak merasa
bersedih ‘. (Sumber. Khuluqul Muslim”, karangan Muhammad Al-Ghazali)
Cinta
karena Allah merupakan titik puncak dan tingginya kualitas iman seseorang,
Hasilnya tidak dapat dilihat, melainkan hanya dapat dirasakan oleh orang yang
telah nyaris sempurna keikhlasanya. Cinta yang mendalam. ini merupakan bukti
kesempurnaan serta ketulusan iman, yang kedua-duanya berhak untuk mendapatkan
pahala yang paling besar di sisi Allah, sebagaimana saba Rasulullah saw:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ الله وَرَسُوْلُهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّاسَوَاهُهُمَا وَاَنْ يُحِبَّ فِى اللهِ وَيَبْغَضَ فِى الله وَاَنْ تُوْقَدُ نَارٌ عَظِيْمَةٌ فَيَقَعُ فِيْهَا اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ اَنْ يُسْرِكَ بِااللهِ سَيِّئًا (رواه مسلم)
Artinya:
“Ada
tiga perkara, barangsiapa yang terdapat padanya ketiga hal tersebut, maka akan
merasakan lezat (manisnya) iman: “Jika ia mencintai Allah dan rasulnya melebihi
yang lainnya; Mencintai dan membenci semata-mata hanya karena Allah; Jika
dilemparkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala, lebih disukai daripada
syirik (menyekutukan) Allah”. (HR. Muslim)
Orang
yang bersahabat, bergaül, dan berkomunikasi dengan yang lainnya hanya karena
Allah, tandanya adalah senantiasa berusaha untuk mendoakan dengan tulus.
Dan
jangan lupa Faktor Utama Dalam Pergaulan
1. Ta’aruf.
Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal
orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan
saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah ukhuwah
islamiyah akan dapat terwujud?
Begitulah, ternyata ta’aruf atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib
ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Dengan ta’aruf kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran,
karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.
2. Tafahum
Memahami,
merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan
orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang
ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan
memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul
kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab,
agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih ingat
,”Bergaul dengan orang shalih ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang
selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedang bergaul
dengan yang jahat ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan
bau asap.
Tak
dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih akan
banyak sedikit membawa kita menuju kepada kesalihan. Dan begitu juga
sebaliknya, ketika kita bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan
membawa kepada keburukan perilaku ( akhlakul majmumah ).
3. Ta’awun.
Setelah
mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap ta’awun
(saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta
pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada
ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullulloh SAW telah
mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan
umat Islam yang lain.
Ta’aruf,
tafahum , dan ta’awun telah menjadi bagian penting yang harus kita lakukan.
Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah.
Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal,
memahami, dan saling menolong.
Comments
Post a Comment